Minggu, 15 Maret 2015

Beras Rekayasa Genetika Penghasil Insulin

Ketika kita mendengar kata insulin pasti kita langsung mengarah pada penyakit yang bernama Diabetes mellitus. Ya, suatu penyakit yang berhubungan dengan tingginya kadar gula dalam darah. Untuk menstabilkan kadar gula dalam darah perlu adanya suatu hormon yang mengatur, salah satu hormon yang berperan penting adalah hormon insulin. Hormon insulin merupakan hormon yang mengatur kadar gula dengan cara mengubahnya dalam bentuk glikogen (La Ode, 2013). Hormon dihasilkan oleh sel-sel beta kelenjar langerhaens pankreas. Kecacatan pada pankreas menyebabkan kekurangan produksi insulin. Kekurangan produksi insulin membuat orang dengan mudah terjangkit Diabetes Mellitus. Untuk menanggulangi permasalahan ini banyak orang yang menggunakan pankreas babi maupun sapi untuk menghasilkan insulin. Namun, jika dilihat dari sisi agama tentu saja ini sangat dilarang karena menggunakan binatang yang haram yaitu babi. Hal ini tentu saja menjadi permasalahan baru bagaimana cara untuk mengatasi Diabetes Milletus. Dengan berkembangnya ilmu teknologi akhirnya ditemukanlah beras hasil rekayasa genetika yang menghasilkan insulin. Bagaimana caranya beras bisa menghasilkan insulin padahal banyak penderita diabetes yang tidak mengkonsumsinya dengan alasan untuk mengurangi kadar gula dalam darah? Mari kita simak penjelasan dibawaah ini J
Beras merupakan sumber karbohidrat yang sangat penting untuk manusia, terutama bagi negara yang menjadikan beras sebagai makanan pokok seperti Indonesia. Beras yang sudah dimasak ketika dimakan didalam tubuh karbohidat yang terkandung didalam beras tersebut akan diubah menjadi glukosa. Jika energi dari glukosa yang dibutuhkan oleh tubuh sudah terpenuhi, maka dapat disimpan dalam bentuk glikogen dengan bantuan hormon insulin. Namun, jika kadar glukosa melebihi ambang batas maka kadar di dalam darah  akan meningkat dan meyebabkan penyakit Diabetes milletusDiabetes milletus merupakan penyakit yang penderitanya setiap tahun meningkat, menurut survei yang dilakukan oleh WHO tahun 1995, Indonesia menempati urutan ke-4 dengan jumlah penderita diabetes terbesar di dunia setelah India, Cina dan Amerika Serikat (Annonim, 2005).
Beras memiliki sifat hiperglikemik yaitu dapat menaikan kadar glukosa darah secara cepat dan tinggi (Widowati, dkk., 2009). Sehingga hal ini membuat para penderita Diabetes milletus pada umumnya melakukan diet ketat dengan cara mengurangi konsumsi nasi bahkan ada yang tidak mengkonsumsi nasi sama sekali dan menggatinya dengan umbi-umbian. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kadar gula dalam darah. Namun, dengan berkembangnya teknologi membuat para ilmuan mencari berbagai cara untuk mengatasi permasalahan pada penderita Diabetes milletus namun tetap mengkonsumsi nasi. Untuk memanfaatkan teknologi yang berkembang saat ini maka digunakan gen bakteri yang biasanya berkembang di dalam usus besar yaitu Eschercia coli untuk menghasilkan insulin. gen dari bakteri Eschercia coli direkombinasikan dengan gen beras sehingga menghasilkan beras berinsulin. Digunakannya bakteri Eschercia coli karena pertumbuhannya sangat cepat dan mudah dalam penanganannya Namun, selain bakteri Eschercia coli untuk menghasilkankan beras insulin juga dibutuhkan bakteri lain yaitu Agrobacterium tumefaciens. Agrobacterium tumefaciens dalah bakteri patogen pada tanaman yang banyak digunakan untuk memasukkan gen asing ke dalam sel tanaman untuk menghasilkan suatu tanaman transgenik (Fatikhah, 2013). Teknik yang dilakukan pada rekayasa genetika ini dilakukan dengan teknik plasmid.

Bagaimana cara membuat beras insulin ?

Pertama hal yang dilakukan yaitu mengisolasi plasmid dari bakteri E.coli lalu memotong plasmid yang telah diisolir dengan enzim retriksi endonuklease. Disamping itu, DNA yang berasal dari sel pankreas dipotong pada suatu segmen pengkodean insulin, DNA yang terbentuk lalu disisipkan ke bakteri E.coli dengan bantuan enzim DNA ligaseSetelah proses ini selesai lalu dilakukan penyisipan gen DNA insulin dari bakteri E.coli ke bakteri Agrobacterium tumefaciens sehingga bakteri Agrobacterium tumefaciens mempunyai gen insulin. pada proses penyisipasn ini harus memperhatikan ukuran dari bakteri. Selanjutnya menginfeksi bakteri dengan gen berinsulin ini ke dalam sel tanaman sehingga akan menghasilkan varietas tanaman baru yaitu beras berinsulin (Fatikhah, 2013).


Gambar 1. Proses penyisipan gen bakteri E.coli ke bakteri Agrobakterium tumefaciens
Sumber : (Farikhah, 2013)


Gambar 2. Penyisipan Bakteri Agrobakterium tumefaciens ke padi
Sumber : (Farikhah, 2013)

Apa kelebihan dari beras berinsulin ?

Jika dilihat dari segi kelebihan pada produk beras berinsulin ini tentu saja sangat penting bagi penderita diabetes milletus karena dapat dimanfaatkan menjadi bahan alternative untuk engkonsumsi nasi setiap hari, sehingga tidak perlu khawatir akan meningkatkan kadar glukosa dalam darah.

Apa kelemahan dari beras berinsulin ?

Disamping ada kelebihan tentu saja ada juga kelemahannya. Dari segi kelemahan dilihat dari pemasarannya. Beras berinsulin ini belum dapat dipasarkan secara menyeluruh dikalangan masyarakat karena produksinya yang belum dapat mencukupi kebutuhan masyarakat. Selain itu, untuk penderita diabetes masih dalam jumlah yang ditentukan untuk mengkonsumsinya. 

Sumber :

Anonymous. 2005. Jumlah penderita diabetes Indonesia rankingke-4 di dunia. Berita Departemen Kesehatan R.I. 5 September 2005.
Sumarlin, La Ode. 2013. Biokimia. Ciputat: Prodi Kimia Fakultas Sains dan Teknologi UIN Jakarta
Dewi, Fatikah Rahma. 2013. Rekayasa Genetika Beras https://www.academia.edu/5936567/REKAYASA_GENETIKA_BERAS. Diakses Tanggal 14 Maret 2015 Pukul 21.36 WIB.
Widowati, dkk. 2009. Penurunan Indeks Glikemik Berbagai Varietas Beras Melaluin Proses Pratanak.http://pascapanen.litbang.pertanian.go.id/assets/media/publikasi/jurnal/j.Pascapanen.2009_1_1.pdf. Diakses Pada Tanggal 14 Maret 2015 Pukul 21.56 WIB.

1 komentar:

Unknown mengatakan...

sesuatu yang harus dikonsumsi agar mengembalikan fungsi pankreasnya apa ya mbbak?

Posting Komentar